Tuesday, June 5, 2012

Negeri 5 Menara

Taukah Anda akan film Negeri 5 Menara??? Yap. Film yang diangkat dari Novel Negeri 5 Menara yang merupakan roman karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh pada tahun 2009. Ahmad Fuadi adalah seorang novelis yang lahir di Maninjau, Sumatra Barat, 30 Desember 1972, pekerja social dan mantan wartawan dari Indonesia. Memulai pendidikan menengah di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan lulus pada tahun 1992. Kemudian melanjutkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran. Tahun 1998, mendapat beasiswa Fullbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Buku novel pertamanya adalah Negeri 5 Menara yang merupakan buku kesatu dari trilogi novelnya yang diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta.

Buku "Negeri 5 Menara"


Novel ini bercerita tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda menuntut ilmu di Pondok Madani (PM) Ponorogo Jawa Timur yang mempunyai upaya keras untuk menggapai obsesi dan cita-cita besar mereka. Mereka itu adalah, Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep), Said (Mojokerto), dan Baso (Gowa) yang selalu bersembunyi di bawah menara masjid PM, membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh: man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses).

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain sepak bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau.

Alif dan teman baiknya, Randai, memiliki mimpi yang sama yaitu masuk ke SMA dan melanjutkan studi di ITB. Karena sejak kecil Alif ingin menjadi ”Habibie”. Baginya, Habibie tidak dalam arti seorang teknokrat genius, tapi sebuah profesi sendiri lantaran dia sangat kagum pada tokoh itu. Itu sebabnya, Alif ingin masuk SMA dan kelak melanjutkan pendidikan di ITB, sama halnya dengan Habibie. Alif dan Randai sudah merasa cukup menerima ajaran Islam dan ingin menikmati masa remaja mereka seperti anak-anak remaja lainnya di SMA. Namun, ibunda Alif menginginkan anaknya mewarisi keulamaan Buya Hamka, ulama kondang yang lahir dan besar tidak jauh dari Bayur, tanah kelahiran Alif. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah ibunya untuk belajar di pondok. Maka dia harus naik bus tiga hari tiga malam untuk sampai di sebuah desa di pelosok Jawa Timur.

Mantera sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Telah menjadi pegangannya. Kalimat tersebut dia dapat waktu hari pertama di kelas Pondok Madani (PM). Dia selalu belajar dari lingkungan, dia sangat terkesan melihat pondoknya yang tidak memperbolehkan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi melainkan harus berbahasa Arab dan bahasa Inggris.

Alif berteman dekat dengan Raja, dia anggota English Club dan seorang orator yang hebat; Said, Ia sangat terobsesi dengan bodybuilding dan mengidolakan Arnold Schwarznegger; Dulmajid, seorang pemain bulu tangkis, rekan latih tanding Ustad Torik; Atang, seorang yang mencintai seni dan teater; dan Baso, yang mempunyai memori fotografis dan bahasa Arab yang fasih. Ia meninggalkan PM saat kelas lima untuk menjaga neneknya dan berusaha menghafal Al-Qur’an di kampung halamannya.

Mereka berenam, dipersatukan karena keterlambatan mereka untuk kumpul di Mesjid dan diberi hukuman sebagai balasan ketidakdisiplinan. Mereka suka berkumpul di Menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung, mereka yang berarak pulang ke ufuk. 

Di mata mereka, awan-awan itu menjelma menjadi Negara dan benua impian masing-masing. Walaupun mereka tidak tahu akan dibawa ke mana impian tersebut tapi yang mereka tahu adalah: “Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun”. Tuhan sungguh Maha Mendengar. Karena mantra sakti tersebut selalu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sekarang mereka sudah berada pada puncak impian masing-masing. Alif (Washington DC), Atang (Kairo), dan Raja (London) yang bertemu pada sebuah konferen­si di London, re­uni bersejarah di Trafalgar Square, Lon­don, -setelah 15 tahun masa-ma­sa sulit di PM berlalu- telah terdedahkan sebagai ruang fiksional dengan segenap kemungkinan tak terduga yang menyertainya. Baso, dengan modal hapal luar kepala segenap isi Al-quran, dia mendapat beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi untuk kuliah di Mekkah. Said dan Dulmajid bekerja sama mendirikan sebuah pondok dengan semangat PM di Surabaya. Mereka tak pernah menyangka para sahibul-menara ba­kal menggenggam impian masing-ma­sing.
man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh, bakal SUKSES !.

Sumber: 
http://negeri5menara.com/index.php/intipisi/sinopsis
http://id.wikipedia.org/wiki/Negeri_5_Menara#Sinopsis
 
 


No comments:

Post a Comment