Taukah Anda akan film Negeri 5 Menara??? Yap. Film yang diangkat dari Novel Negeri 5 Menara yang merupakan roman karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh pada tahun 2009. Ahmad Fuadi adalah seorang novelis yang lahir di Maninjau, Sumatra Barat, 30 Desember 1972, pekerja social dan mantan wartawan dari Indonesia. Memulai pendidikan menengah di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan lulus pada tahun 1992. Kemudian melanjutkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran. Tahun 1998, mendapat beasiswa Fullbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Buku novel pertamanya adalah Negeri 5 Menara yang merupakan buku kesatu dari trilogi novelnya yang diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta.
Buku "Negeri 5 Menara"
Novel ini bercerita tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda menuntut ilmu di Pondok Madani (PM) Ponorogo Jawa Timur yang mempunyai upaya keras untuk menggapai obsesi dan cita-cita besar mereka. Mereka itu adalah, Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep), Said (Mojokerto), dan Baso (Gowa) yang selalu bersembunyi di bawah menara masjid PM, membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh: man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses).
Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian
runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain sepak bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di
air biru Danau Maninjau.
Alif dan teman baiknya, Randai, memiliki
mimpi yang sama yaitu masuk ke SMA dan melanjutkan studi di ITB. Karena sejak
kecil Alif ingin menjadi ”Habibie”. Baginya, Habibie tidak dalam arti seorang
teknokrat genius, tapi sebuah profesi sendiri lantaran dia sangat kagum pada
tokoh itu. Itu sebabnya, Alif ingin masuk SMA dan kelak melanjutkan pendidikan
di ITB, sama halnya dengan Habibie. Alif dan Randai sudah merasa cukup menerima
ajaran Islam dan ingin menikmati masa remaja mereka seperti anak-anak remaja
lainnya di SMA. Namun, ibunda Alif menginginkan anaknya mewarisi keulamaan Buya
Hamka, ulama kondang yang lahir dan besar tidak jauh dari Bayur, tanah
kelahiran Alif. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah ibunya untuk
belajar di pondok. Maka dia harus naik bus tiga hari tiga malam untuk sampai di
sebuah desa di pelosok Jawa Timur.
Mantera sakti man jadda wajada. Siapa yang
bersungguh-sungguh pasti sukses. Telah menjadi pegangannya. Kalimat tersebut
dia dapat waktu hari pertama di kelas Pondok Madani (PM). Dia selalu belajar
dari lingkungan, dia sangat terkesan melihat pondoknya yang tidak
memperbolehkan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi melainkan
harus berbahasa Arab dan bahasa Inggris.
Alif berteman dekat dengan Raja, dia anggota
English Club dan seorang orator yang hebat; Said, Ia sangat terobsesi dengan
bodybuilding dan mengidolakan Arnold Schwarznegger; Dulmajid, seorang pemain
bulu tangkis, rekan latih tanding Ustad Torik; Atang, seorang yang mencintai
seni dan teater; dan Baso, yang mempunyai memori fotografis dan bahasa Arab
yang fasih. Ia meninggalkan PM saat kelas lima untuk menjaga neneknya dan
berusaha menghafal Al-Qur’an di kampung halamannya.
Mereka berenam, dipersatukan karena
keterlambatan mereka untuk kumpul di Mesjid dan diberi hukuman sebagai balasan
ketidakdisiplinan. Mereka suka berkumpul di Menara masjid yang menjulang,
mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung, mereka
yang berarak pulang ke ufuk.
Di mata mereka, awan-awan itu menjelma
menjadi Negara dan benua impian masing-masing. Walaupun mereka tidak tahu akan
dibawa ke mana impian tersebut tapi yang mereka tahu adalah: “Jangan pernah
remehkan impian, walau setinggi apa pun”. Tuhan sungguh Maha Mendengar. Karena mantra
sakti tersebut selalu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sekarang
mereka sudah berada pada puncak impian masing-masing. Alif (Washington DC),
Atang (Kairo), dan Raja (London) yang bertemu pada sebuah konferensi di London,
reuni bersejarah di Trafalgar Square, London, -setelah 15 tahun masa-masa
sulit di PM berlalu- telah terdedahkan sebagai ruang fiksional dengan segenap
kemungkinan tak terduga yang menyertainya. Baso, dengan modal hapal luar kepala
segenap isi Al-quran, dia mendapat beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi
untuk kuliah di Mekkah. Said dan Dulmajid bekerja sama mendirikan sebuah pondok
dengan semangat PM di Surabaya. Mereka tak pernah menyangka para sahibul-menara
bakal menggenggam impian masing-masing.
man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh,
bakal SUKSES !.
Sumber:
http://negeri5menara.com/index.php/intipisi/sinopsis
http://id.wikipedia.org/wiki/Negeri_5_Menara#Sinopsis

No comments:
Post a Comment