Wednesday, June 6, 2012

Sejarah Negeri Indonesia

 Dari dulu gua emang hobi nulis, mulai dari nulis diary, nulis sejarah, nulis love story, pokonya nulis apapun deh yang gua dengar, liat dan rasakan. Gua jadi inget dulu pernah ngepost di FB tentang negri kita, Indonesia  on Tuesday, November 17, 2009 at 4:02pm (https://www.facebook.com/notes/nurfitriani-al-rejab/penting-ga-penting-baca-/180248798780). Gini loh cuplikannya.....

"aku bingung & sangat penasaran ! Aku lahir di Indonesia tapi aku ngga tau penemu negara ini? Atau asal usul nama INDONESIA?

Aku baru tau lhoo, kalo indonesia bukan sebuah daratan / negara yang ditemukan layaknya amerika tp didirikan. Nah, pendirinya itu ya presiden pertama kita yang berhasil menyatukan layaknya indonesia kini.

Tau nggak si lo? Dulu itu ngga ada indonesia yang ada cuma kerajaan kerajaan seperti : sriwijaya, padjajaran, majapahit dll....
Lalu kerajaan itu disatukan oleh gajah mada (panglima besar majapahit).

Bangsa indonesia sendiri merupakan keturunan bangsa austronesia yang berasal dari daratan cina yang berlayar dari pantai asia tenggara ke lautan luas lalu menyebar keberbagai penjuru pulau yang kemudian mengembangkan adat n budayanya so terbentuklah negara indonesia yang kaya akan budaya (macam suku).

Yang lebih kocaknya, katanya, christopher columbus itu niatnya mau ke indonesia (hindia) karena mendengar kaya akan rempah rempah n pusat perdagangan di asia (hindia) tp dia nyasar malah mendarat di amerika makanya dia menyebut penduduk asli amerika dg "indian" karena beranggapan bahwa itu adalah hindia. Hahaha ngga kebayang kalo c.columbus mendarat di indonesia !

Nah itu sekilas info tentang indonesia, tp kalo soal namanya aku masi BINGUNG "


kalo temen-temen masih bingung, silakan baca sejarah berikut yang gua ambil dari (http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_nama_Indonesia).

Sejarah nama Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama.
Kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan").
Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi ("kemenyan Jawa"), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "orang Jawa" oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi ("semuanya Jawa").
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).
Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu "Insulinde", yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa Latin "insula" berarti pulau). Nama "Insulinde" ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.

Nama Indonesia


Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur")), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris):
"... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia"".
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. [1]
Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):
"Mr Earl menyarankan istilah etnografi "Indunesian", tetapi menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah geografis murni "Indonesia", yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia"
Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau.
Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang Indonesia").

 itulah kilasan sejarah negara Indonesia. semoga bermanfaat.

Tuesday, June 5, 2012

Super Speed Reading

Ngga sengaja pas buka twitter, akun @bukuhemat nongol di Timeline lagi bahas #TipsMembaca buku dan koran dari buku "Super Speed Reading" karya Irwan Widiatmoko. Dan gua Cuma mau share aja :D

Berikut tips untuk baca buku:
  1. Sediakan waktu minimal 10 menit untuk membaca apa saja dengan penuh perhatian.
  2. Cintai kegiatan membaca dan jadikan sebagai kebiasaan.
  3. Tempatkan buku di tempat strategis sehingga ketika kita melihatnya, langsung timbul keinginan membaca buku.
  4. Jangan mengulang, selesaikan membaca satu bagian lalu lanjutkan ke bagian selanjutnya.
Dan ini tips untuk baca Koran:
  1. Kenali organisasi tulisan (artikel) dan tata letaknya sehingga tidak buang-buang waktu mencari-cari artikel yg dibaca.
  2. Lakukan preview dahulu secara menyeluruh, lalu pilih artikel yang akan dibaca secara seksama.
  3. Lakukan preview dan pentunjuk artikel yang akan dibaca, baru bacalah artikel tersebut secara keseluruhan.
  4. Maksimalkan tips-tips tersebut dalam waktu 15 menit untuk membaca koran. Fokuslah sehingga kita tidak membuang-buang waktu.
Begitulah tipsnya. Yok mari kita aplikasikan. Gua sendiri uda bikin komitmen, dalam waktu dua minggu mesti tuntas baca minimal 1 buku. Efeknya bener kerasa loooh. Dan gua nyesel, kenapa gua ga nerapin sistem ini dari dulu. So, buat lo, jangan sampai nyesel kaya gua yak ckckck. Semoga bermanfaat.

Creative Junkies

Disini gua bakal share poin penting buku Creative Junkies dari Yoris Sebastian, tapi sebelumnya, lo mesti tau dong siapa Yoris Sebastian itu?

Yoris Sebastian (lahir di Ujung Pandang, 5 Agustus 1972; umur 39 tahun) adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang dikenal bergerak dalam bidang industri kreatif. Pada usia 26 tahun, Yoris terpilih menjadi GM (General Manager) Hard Rock Cafe Indonesia, menjadi GM termuda se-Asia dan termuda kedua di dunia. Pada usia 34 tahun, selepas keluar dari Hard Rock, ia mendirikan sebuah perusahaan konsultan kreatif OMG (Oh My Goodness).

Yoris terkenal dalam hal inovasi dan ide kreatif. Pria yang suka minum air putih ini menunjukkan konsistensinya dalam membuat ide-ide kreatif yang tidak biasa yang dalam bahasa Inggris dikenal juga sebagai berpikir out of the box. Menurutnya, ide kreatif akan segera berkembang bila dimulai dengan hal yang kecil (start small). 
Lebih lengkapnya --> http://id.wikipedia.org/wiki/Yoris_Sebastian

Ok. Langsung aja, ada 15 poin penting dalam buku Creative Junkies ini, diantaranya:
  1. Ide Kreatif seperti titik kecil, bisa berevolusi, tumbuh menjadi sesuatu yang luar biasa karena melewati serentetan proses.
  2. Kreativitas seseorang tergantung sejauh mana ia mampu membuka diri dan bersikap open minded.
  3. Kreativitas bukan sesuatu yang given tapi sebuah keterampilan/ skill yang dapat dilatih dan dimunculkan.
  4. Jika ingin jadi kreatif dan inovatif, harus mampu menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan.
  5. Tanpa kreativitas kita tidak akan punya nilai tambah yang membuat kita lebih maju.
  6. Dalam mewujudkan kreativitas berlaku hokum every big step starts with an inch.
  7. Jadikan berpikir kreatif sebagai kebiasaan dalam keseharian kita.
  8. Jangan pendam kreativitas yang dimiliki, tapi wujudkan dalam karya yang bisa menolong banyak orang.
  9. Pahamilah kebutuhan masyarakat dalam mewujudkan karya kreatif yang bernilai tinggi.
  10. Biasakan diri berpikir kreatif dengan melakukan hal-hal sederhana, tapi diluar kebiasaan.
  11. Sebagai orang kreatif, kita harus berbeda dengan orang lain, tapi mesti disertai alas an yang tepat.
  12. Don’t just be different. Be different by reason.
  13. Kreativitas dari ide sederhana justru lebih efektif ketimbang yang dihasilkan dari ide-ide yang sulit.
  14. Carilah pengetahuan dan informasi sebanyak-banyaknya agar mudah mendapat inspirasi.
  15. Jangan takut salah, selama kita tidak melakukan kesalahan yang sama.
Hmmm, mungkin lo belum puas. It’s ok, lo bisa klik --> Klik à http://thecreativejunkies.com/


Negeri 5 Menara

Taukah Anda akan film Negeri 5 Menara??? Yap. Film yang diangkat dari Novel Negeri 5 Menara yang merupakan roman karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh pada tahun 2009. Ahmad Fuadi adalah seorang novelis yang lahir di Maninjau, Sumatra Barat, 30 Desember 1972, pekerja social dan mantan wartawan dari Indonesia. Memulai pendidikan menengah di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan lulus pada tahun 1992. Kemudian melanjutkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran. Tahun 1998, mendapat beasiswa Fullbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Buku novel pertamanya adalah Negeri 5 Menara yang merupakan buku kesatu dari trilogi novelnya yang diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta.

Buku "Negeri 5 Menara"


Novel ini bercerita tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda menuntut ilmu di Pondok Madani (PM) Ponorogo Jawa Timur yang mempunyai upaya keras untuk menggapai obsesi dan cita-cita besar mereka. Mereka itu adalah, Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep), Said (Mojokerto), dan Baso (Gowa) yang selalu bersembunyi di bawah menara masjid PM, membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh: man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses).

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain sepak bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau.

Alif dan teman baiknya, Randai, memiliki mimpi yang sama yaitu masuk ke SMA dan melanjutkan studi di ITB. Karena sejak kecil Alif ingin menjadi ”Habibie”. Baginya, Habibie tidak dalam arti seorang teknokrat genius, tapi sebuah profesi sendiri lantaran dia sangat kagum pada tokoh itu. Itu sebabnya, Alif ingin masuk SMA dan kelak melanjutkan pendidikan di ITB, sama halnya dengan Habibie. Alif dan Randai sudah merasa cukup menerima ajaran Islam dan ingin menikmati masa remaja mereka seperti anak-anak remaja lainnya di SMA. Namun, ibunda Alif menginginkan anaknya mewarisi keulamaan Buya Hamka, ulama kondang yang lahir dan besar tidak jauh dari Bayur, tanah kelahiran Alif. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah ibunya untuk belajar di pondok. Maka dia harus naik bus tiga hari tiga malam untuk sampai di sebuah desa di pelosok Jawa Timur.

Mantera sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Telah menjadi pegangannya. Kalimat tersebut dia dapat waktu hari pertama di kelas Pondok Madani (PM). Dia selalu belajar dari lingkungan, dia sangat terkesan melihat pondoknya yang tidak memperbolehkan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi melainkan harus berbahasa Arab dan bahasa Inggris.

Alif berteman dekat dengan Raja, dia anggota English Club dan seorang orator yang hebat; Said, Ia sangat terobsesi dengan bodybuilding dan mengidolakan Arnold Schwarznegger; Dulmajid, seorang pemain bulu tangkis, rekan latih tanding Ustad Torik; Atang, seorang yang mencintai seni dan teater; dan Baso, yang mempunyai memori fotografis dan bahasa Arab yang fasih. Ia meninggalkan PM saat kelas lima untuk menjaga neneknya dan berusaha menghafal Al-Qur’an di kampung halamannya.

Mereka berenam, dipersatukan karena keterlambatan mereka untuk kumpul di Mesjid dan diberi hukuman sebagai balasan ketidakdisiplinan. Mereka suka berkumpul di Menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung, mereka yang berarak pulang ke ufuk. 

Di mata mereka, awan-awan itu menjelma menjadi Negara dan benua impian masing-masing. Walaupun mereka tidak tahu akan dibawa ke mana impian tersebut tapi yang mereka tahu adalah: “Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun”. Tuhan sungguh Maha Mendengar. Karena mantra sakti tersebut selalu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sekarang mereka sudah berada pada puncak impian masing-masing. Alif (Washington DC), Atang (Kairo), dan Raja (London) yang bertemu pada sebuah konferen­si di London, re­uni bersejarah di Trafalgar Square, Lon­don, -setelah 15 tahun masa-ma­sa sulit di PM berlalu- telah terdedahkan sebagai ruang fiksional dengan segenap kemungkinan tak terduga yang menyertainya. Baso, dengan modal hapal luar kepala segenap isi Al-quran, dia mendapat beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi untuk kuliah di Mekkah. Said dan Dulmajid bekerja sama mendirikan sebuah pondok dengan semangat PM di Surabaya. Mereka tak pernah menyangka para sahibul-menara ba­kal menggenggam impian masing-ma­sing.
man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh, bakal SUKSES !.

Sumber: 
http://negeri5menara.com/index.php/intipisi/sinopsis
http://id.wikipedia.org/wiki/Negeri_5_Menara#Sinopsis
 
 


Thursday, March 24, 2011

18th = TUA

     Tua. Umurku kini 18 tahun. Bukanlah angka masa kanak-kanak lagi, melainkan sudah menginjak dewasa. Meskipun body & kelakuan masih kaya anak kecil. Tapi aku yakin disuatu hari nanti aku akan tampil dewasa. Kedewasaan dijawab oleh waktu & proses. Sekali lagi PROSES.

     Menurut wali kelas-ku, Ibu Rika berkata: "Tua bukanlah angka, tapi tua adalah sebuah kedewasaan dalam bersikap dan berfikir...menurut ibu, Mpi belum tua secara angka, tapi sangat dewasa dalam bertindak dan berfikir."
     SENANG. masih ada orang yang perhatian, masih ada orang yang mengingat hari jadiku, masih ada orang yang mau mendoakanku, masih ada orang yang memberiku hadiah

     Ucapan special dari sang ayah -Deden Lukmandi- adalah yg pertama terdengar ditelinga, menyusul sebuah sms dari adikku tercinta -Alya Fatimah Zahra Lukmandi-, 18 sms dihari ke-18tahunku dari sahabatku -Firdilla Qonita Firodiya Robby-, ucapan special dari sang mantan, temen-temen, sanak sodara bertubi-tubi memenuhi inbox dihandphoneku.
     
     Pagi ini aku sengaja dateng siang ke smuth. Ketika sampai di smuth, tamparan tangan sudah dihidangkan depan mata, mulai dari tamparan kejamnya Firdilla, menyusul Sela, Ninis, Sasa, Reni, Lulu, Syifa, Nana, Nada, Nadya, Dieni dll *saking banyaknya ngga bisa disebutin satu per satu. Tamparan itu sakit, perih, peureus, tetapi itulah salah satu ekspresi kasih sayang mereka, 18 kali menampar  per jiwa sesuai jumlah umurku. TUA. 

     Masih siang, aku bergegas pulang, karena malas berdiam diri di sekolah tanpa ada kerjaan.  Tidak lama kemudian, Sasa & Dilla mengajakku pergi ke Kosan Rumput. "Ok deh sekalian bawa blender" ucapku. Singkat cerita, sampailah di Kosan Rumput. Setelah bawa blender, tidaklah langsung pulang melainkan menunggu Abdi mengembalikan laptop Sasa. *Seperti biasa, aku selalu pulang bareng Sasa. 

    "Pi keluar deh", ajak Dila & Sasa. Dengan wajah ngantuk & malas, aku keluar. Dan bener-bener Suprise. Sebuah kejutan. Ketika aku membuka pagar kosan, ada sesosok pria berjanggut dengan menenteng plastik item ditangan kanannya. "selamat ulang taun ya pi, maaf bob ga bisa ngasi apa-apa", Ucap si pria berjenggot itu. Wow amazing. Sungguh kaget. Serasa mimpi. "Makasi", balasku. Ngobrol sebentar dengan wajah malu-malu apalagi ketika anak-anak cewe yang lagi menonton bioskop di kamar Lulu pada keluar. hanya untuk melihat pi dengan pria berjenggot itu. Haduh maluuu !

     Singkat cerita. Sampai di rumah. Pulang sekolah aku langsung teridur pulas. Bangun tidur aku bergegas mandi. Ketika aku sedang memakai baju, terdengar olehku suara perempuan yang sudah tidak asing lagi. Eh ada tamu. Tamu yang sangat special dalam hidupku, dia membawa kekasih hidupnya untuk dijadikan supir mengantarkannya kerumahku. Dengan dua buah kue bulat berukuran kecil dan lilin biru kuning (lilin itu melambangkan Donal Duck) serta lagu HBD dari mamang odong-odong yang tanpa skenario pas dengan suasana, semua itu merupakan serangkaian kejadian yang membuatku terharu. Terima kasih Dila-Iqbal.

     Semuanya simple & sangat berkesan.Sebuah kalimat "Selamat Ulang Tahun Mpiii" tidak asing terdengar ditelinga ini. Mulai dari teman sampai guru smuth pun mengucapkan *beberapa. Ucapan HBD benar-benar melekat di hari 22 Maret ini, tidak hanya via sms atau ucapan secara langsung, tapi di email & profil FB penuh dg ucapan HBD, SELAMAT ULANG TAHUN, semoga bla bla bla... Dan aku jawab: amiiiin. 

     Makasih juga atas surat dari sang guru Pa Cucu, kata-katanya sangat menyentuh.
     Nuhun kanggo Aki, Ema, Bi Nina, Bi Nani, Amang, Daffa, Revina, Aacah, syukuran kecil-kecilan sangat bermakna buatku.

     Makasih banyak buat pria berjenggot itu -Husain Akbar Firdaus-, Firdilla, Marisa & sahabat 17 yang membuat 18 tahunku menjadi special. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Terima kasih.LOVE YOU ALL.