Thursday, March 24, 2011

18th = TUA

     Tua. Umurku kini 18 tahun. Bukanlah angka masa kanak-kanak lagi, melainkan sudah menginjak dewasa. Meskipun body & kelakuan masih kaya anak kecil. Tapi aku yakin disuatu hari nanti aku akan tampil dewasa. Kedewasaan dijawab oleh waktu & proses. Sekali lagi PROSES.

     Menurut wali kelas-ku, Ibu Rika berkata: "Tua bukanlah angka, tapi tua adalah sebuah kedewasaan dalam bersikap dan berfikir...menurut ibu, Mpi belum tua secara angka, tapi sangat dewasa dalam bertindak dan berfikir."
     SENANG. masih ada orang yang perhatian, masih ada orang yang mengingat hari jadiku, masih ada orang yang mau mendoakanku, masih ada orang yang memberiku hadiah

     Ucapan special dari sang ayah -Deden Lukmandi- adalah yg pertama terdengar ditelinga, menyusul sebuah sms dari adikku tercinta -Alya Fatimah Zahra Lukmandi-, 18 sms dihari ke-18tahunku dari sahabatku -Firdilla Qonita Firodiya Robby-, ucapan special dari sang mantan, temen-temen, sanak sodara bertubi-tubi memenuhi inbox dihandphoneku.
     
     Pagi ini aku sengaja dateng siang ke smuth. Ketika sampai di smuth, tamparan tangan sudah dihidangkan depan mata, mulai dari tamparan kejamnya Firdilla, menyusul Sela, Ninis, Sasa, Reni, Lulu, Syifa, Nana, Nada, Nadya, Dieni dll *saking banyaknya ngga bisa disebutin satu per satu. Tamparan itu sakit, perih, peureus, tetapi itulah salah satu ekspresi kasih sayang mereka, 18 kali menampar  per jiwa sesuai jumlah umurku. TUA. 

     Masih siang, aku bergegas pulang, karena malas berdiam diri di sekolah tanpa ada kerjaan.  Tidak lama kemudian, Sasa & Dilla mengajakku pergi ke Kosan Rumput. "Ok deh sekalian bawa blender" ucapku. Singkat cerita, sampailah di Kosan Rumput. Setelah bawa blender, tidaklah langsung pulang melainkan menunggu Abdi mengembalikan laptop Sasa. *Seperti biasa, aku selalu pulang bareng Sasa. 

    "Pi keluar deh", ajak Dila & Sasa. Dengan wajah ngantuk & malas, aku keluar. Dan bener-bener Suprise. Sebuah kejutan. Ketika aku membuka pagar kosan, ada sesosok pria berjanggut dengan menenteng plastik item ditangan kanannya. "selamat ulang taun ya pi, maaf bob ga bisa ngasi apa-apa", Ucap si pria berjenggot itu. Wow amazing. Sungguh kaget. Serasa mimpi. "Makasi", balasku. Ngobrol sebentar dengan wajah malu-malu apalagi ketika anak-anak cewe yang lagi menonton bioskop di kamar Lulu pada keluar. hanya untuk melihat pi dengan pria berjenggot itu. Haduh maluuu !

     Singkat cerita. Sampai di rumah. Pulang sekolah aku langsung teridur pulas. Bangun tidur aku bergegas mandi. Ketika aku sedang memakai baju, terdengar olehku suara perempuan yang sudah tidak asing lagi. Eh ada tamu. Tamu yang sangat special dalam hidupku, dia membawa kekasih hidupnya untuk dijadikan supir mengantarkannya kerumahku. Dengan dua buah kue bulat berukuran kecil dan lilin biru kuning (lilin itu melambangkan Donal Duck) serta lagu HBD dari mamang odong-odong yang tanpa skenario pas dengan suasana, semua itu merupakan serangkaian kejadian yang membuatku terharu. Terima kasih Dila-Iqbal.

     Semuanya simple & sangat berkesan.Sebuah kalimat "Selamat Ulang Tahun Mpiii" tidak asing terdengar ditelinga ini. Mulai dari teman sampai guru smuth pun mengucapkan *beberapa. Ucapan HBD benar-benar melekat di hari 22 Maret ini, tidak hanya via sms atau ucapan secara langsung, tapi di email & profil FB penuh dg ucapan HBD, SELAMAT ULANG TAHUN, semoga bla bla bla... Dan aku jawab: amiiiin. 

     Makasih juga atas surat dari sang guru Pa Cucu, kata-katanya sangat menyentuh.
     Nuhun kanggo Aki, Ema, Bi Nina, Bi Nani, Amang, Daffa, Revina, Aacah, syukuran kecil-kecilan sangat bermakna buatku.

     Makasih banyak buat pria berjenggot itu -Husain Akbar Firdaus-, Firdilla, Marisa & sahabat 17 yang membuat 18 tahunku menjadi special. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Terima kasih.LOVE YOU ALL.

No comments:

Post a Comment